Laporan Laba Rugi

Kali ini saya akan memposting mengenai Laporan Laba/Rugi (Income Statement). Artikel ini menurut saya sangat penting sekali karena Laporan Laba/Rugi merupakan laporan yang menunjukkan kepada kita tentang komposisi penjualan, harga pokok, dan biaya-biaya selama suatu periode tertentu.

Konsep mengenai laporan laba/rugi adalah sebagai berikut :

Bila kita membeli sebuah barang dengan harga Rp 1.000 dan menjualnya dengan harga Rp 1.500, dan untuk menjual barng tersebut kita mengeluarkan biaya sebanyak Rp 200, berapakah keuntungan yang diperoleh? Dengan gampang kita akan menjawab Rp 300. Angka tersebut diperoleh dari:
Penjualan Rp 1.500
Harga Beli(Rp 1.000)
Biaya(Rp    200)
Untung Rp    300

Dengan mencatat seperti tabel di atas, kita tahu bahwa kita untung Rp 300. Sekarang misalkan kita menjual dengan harga Rp 1.100, apakah kita masih untung? Jawabnya adalah tidak,tetapi rugi sebesar Rp 100. Yang jadi masalh sekarang adalah kenapa rugi? Dengan pencatatan sederhana di atas kita tidak mengetahui penyebab kerugiannya, karena kita hanya mengurangkan nilai jual dengan seluruh biaya yang telah dikeluarkan. Sekarang coba kita membagi komponen di atas menjadi lebih rinci seperti berikut:

Penjualan Rp 1.100
Harga Beli(Rp 1.000)

 Rp    100
Biaya(Rp    200)
Rugi Rp    100

Sekarang lebih jelas, Rupanya kita rugi akibat dari biaya Rp 200 yang kita keluarkan. Dengan demikian, kita dapat melakukan tindakan dengan lebih tepat untuk memperoleh laba yaitu dengan menaikkan harga jual atau menekan biaya yang harus dikeluarkan.

Contoh Format Laporan Laba/Rugi

PT. CONTOH
Laporan Laba/Rugi
Per 31 Desember 20XX

PENJUALAN KOTOR XXXXX
a. Retur Penjualan(XXXXX)
b. Potongan Penjualan(XXXXX)
--
PENJUALAN BERSIH XXXXX
HARGA POKOK PENJUALAN(XXXXX)
--
LABA KOTOR XXXXX
BIAYA OPERASIONAL(XXXXX)
--
LABA OPERASIONAL XXXXX
PENDAPATAN (BIAYA) LAIN
a. Pendapatan Lain-Lain
b. Biaya Lain-Lain

 XXXXX 
(XXXXX)
--
LABA BERSIH SEBELUM PAJAK XXXXX
PAJAK PENGHASILAN(XXXXX)
LABA BERSIH SETELAH PAJAK(XXXXX)

KOMPONEN LAPORAN LABA RUGI

  • Penjualan (Sales)

Komponen pertama dari Income Statement adalah Penjualan (Sales), yaitu pendapatan yang diperoleh perusahaan akibat dari penyerahan barang/jasa dari bisnis utamanya.Jadi misalnya untuk perusahaan manufaktur tekstil, yang masuk dalam kategori penjualan ini adalah penjualan kain. Bila ternyata dalam tahun tersebut terjadi penjualan mesin, hasil penjualan mesin tidak dicatat sebagai penjualan. Jadi yang dicatat sebagai penjualan hanyalah benar-benar hasil penjualan dari produk / bisnis utamanya.

Untuk kejelasan analisis, biasanya kita membedakan Penjualan Bruto/Kotor (Gross Sales) dengan Penjualan Bersih (Net Sales). Pembedaan ini muncul karena dalam praktek bisnis sering terdapat Pengembalian/Retur Penjualan (Sales Return) dan atau Potongan Penjualan (Sales Discount). Bila kedua hal tersebut tidak terjadi maka Net Sales akan sama dengan Gross Sales. Bila terdapat Retur Penjualan dan atau Potongan Penjualan maka Net Sales akan lebih kecil dari Gross Sales karena hasil penjualan dikurangi dengan jumlah retur/potongan penjualan yang terjadi.
Konsepnya adalah sebagai berikut :
-PENJUALAN KOTOR (GROSS SALES)
dikurangiRETUR PENJUALAN (SALES RETURN)
dikurangiPOTONGAN PENJUALAN (SALES DISCOUNT)
-PENJUALAN BERSIH (NET SALES)

  • Harga Pokok Penjualan (Cost Of Goods Sold)

Harga Pokok Penjualan (Cost Of Goods Sold atau yang lebih dikenal dengan istilah COGS) dapat didefinisikan secara sederhana sebagai biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam rangka pengadaan barang yang akan dijual. Terdapat sedikit perbedaan  perhitungan COGS antara bisnis dagang (seperti toko, supermarket), bisnis manufaktur dan bisnis jasa.

Cara perhitungan COGS untuk masing-masing industri tersebut adalah sebagai berikut :

Contoh Laporan Laba/Rugi Untuk Bisnis Dagang
Persediaan Awal XXXXX  (1)
Pembelian XXXXX (2)
- (1) + (2) = (3)
Barang Tersedia Untuk Dijual XXXXX (3)
Persediaan Akhir (XXXXX) (4)
-(3)-(4) = (5)
Harga Pokok Penjualan  XXXXX (5)  

 Contoh Laporan Laba/Rugi Untuk Bisnis Manufaktur
 
Persediaan Awal Bahan BakuXXXX (1)
Pembelian Bahan BakuXXXX (2)
--
Bahan Baku TersediaXXXX (3) = (1) + (2)
Persediaan Akhir Bahan BakuXXXX (4)
--
Bahan Baku Yang DipakaiXXXX (5) = (3) - (4)
Biaya Produksi LangsungXXXX (6)
Biaya Produksi Tidak LangsungXXXX (7)
--
Total Biaya ProduksiXXXX (8) = (5) + (6) + (7)
Persediaan Awal Barang Dalam ProsesXXXX (9)
Persediaan Akhir Barang Dalam ProsesXXXX (10)
--
Harga Pokok ProduksiXXXX (11) = (8) + (9) - (10)
Persediaan Awal Barang JadiXXXX (12)
Persediaan Akhir Barang JadiXXXX (13)
--
Harga Pokok PenjualanXXXX (14) = (11) + (12) - (13)

Contoh Biaya Produksi Langsung adalah Upah Buruh, sedangkan contoh Biaya Produksi Tidak Langsung adalah Biaya Penyusutan Mesin-mesin Produksi, Biaya Pemeliharaan Gedung Pabrik, dan Lain-Lain.

Lalu bagaimana contoh pelaporan Laba/Rugi untuk bisnis yang bergerak di bidang jasa? Menghitung COGS untuk industri jasa memang agak berbeda dengan industri lainnya karena sifatnya yang sangat khas. Untuk menghitung COGS dari bisnis jasa kita perlu membedakan biaya yang langsung berhubungan dengan penyediaan (penyelenggaraan) jasa (yang langsung menghasilkan penjualan) dengan biaya yang tidak berhubungan langsung dengan penjualan. Biaya langsung tersebut yan dikatakan sebagai Harga Pokok dari bisnis sedangkan biaya yang tidak langsung berhubungan dengan penjualan tersebut digolongkan sebagai biaya operasional lainnya.

Misal :
KONSULTAN ARSITEKTURCOGS = Gaji Arsitek
SOFTWARE HOUSECOGS = Gaji Programmer
BANKCOGS = Gaji Account Officer

Sedangkan biaya lainnyaseperti gaji recepsionist, staf penunjang, dan lain-lainnya yang tidak langsung berhubungan dengan penjualan digolongkan sebagai biaya operasional
  • Laba Kotor/Bruto (Gross Profit)
Selisih antara Penjualan Bersih (Net Sales) dengan Harga Pokok Penjualan (COGS) disebut dengan Laba Kotor/Bruto (Gross Profit). Laba Kotor menunjukkan besarnya Laba/Rugi yang dialami dengan membuat produk atau menyediakan jasa.

Gross Profit memberikan indikasi mengenai tiga hal :
  1. Pengendalian Persediaan (Inventory Control)
Perhatikan cara perhitungan harga pokok di atas. Bila perusahaan dapat mengadakan pengendalian persediaan dengan baik, harga pokok penjualan akan dapat ditekan sehingga dapat memberikan Gross Profit yang lebih tinggi

    2.  Efisiensi (Efficiency)

Dengan meningkatkan efisiensi, biaya dapat ditekan sehingga dapat mempertinggi Gross Profit

    3.  Harga Jual Produk ( Pricing)

Bila kita dapat menjual produk dengan harga yang lebih tinggi, kita akan memperoleh Gross Profit yang lebih besar pula.

Misalkan perusahaan telah dapat mengendalikan persediaan barang dengan baik, dan telah melakukan efisiensi ke tingkat yang paling optimum, sehingga diperoleh Harga Pokok Penjualan sebesar Rp 900. Bila perusahaan tidak dapat menjual di atas Rp 900, ia akan tetap rugi. Begitu perusahaan dapat menjual produknya di atas harga pokoknya tersebut,, ia akan memperoleh Laba Kotor sebesar selisihnya. Misalkan perusahaan menjual dengan harga Rp 1000, maka ia akan memperoleh Laba Kotor sebesar Rp 100. Semakin tinggi harga jualnya, semakin besar pula Laba Kotor yang diperolehnya.

  • Biaya Operasional
Biaya Operasional atau Biaya Usaha (Operating Expenses) adalah biaya yang tidak berhubungan langsung dengan produk perusahaan tetapi berkaitan dengan aktivitas operasional perusahaan sehari-hari. Biaya usaha sering disebut juga dengan istilah SGA ( Selling, General, dan Administrative Expenses). Biaya ini dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu :

          1.  Biaya Penjualan ( Selling Expenses)

Yaitu biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan penjualan yang dilakukan perusahaan seperti Biaya Promosi, Biaya Pengepakan Barang, Biaya Gaji para salesman, dan lain-lain.

          2.  Biaya Administrasi dan Umum (General and Administrative Expenses)

Yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan tetapi tidak ada hubungan dengan penjualan seperti Biaya Gaji Staf Administrasi, Biaya Persediaan Alat Kantor, Biaya Penyusutan Gedung Kantor, dan lain-lain  
  • Laba Usaha
Dengan mengurangi Biaya Operasional dari Laba Kotor, kita akan memperoleh Laba Usaha (Operating Profit). Laba Usaha menunjukkan besarnya keuntungan (atau kerugian) yang diperoleh dari bisnis utama perusahaan.
  • Pendapatan (Biaya) Lain-Lain (Other Income/Expenses)
 Bila perusahaan memperoleh pendapatan tetapi tidak dari kegiatan normalnya, pendapatan ini dicatat sebagai Pendapatan Lain-Lain (Other Income). Beberapa contoh adalah penjualan aktiva perusahaan, pendapatan dari bunga,  dan lain-lain. Pada kasus perusahaan tekstil di atas, hasil penjualan mesin dicatat sebagai Pendapatan Lain-Lain. Di lain pihak, biaya-biaya yang timbul tetapi tidak dapat digolongkan sebagai Biaya Operasional (Biaya Usaha) seperti Biaya Bunga Bank,dan lain-lain digolongkan sebagai Biaya Lain-Lain (Other Expenses).

Dalam situai dimana Pendapatan Lain-Lain lebih besar daripada Biaya Lain-Lain, komponen ini memberikan tambahan penghasilan untuk perusahaan. Bila terjadi situasi sebaliknya,komponen ini akan menambah beban perusahaan.
  • Laba Bersih (Net Profit)
Komponen terakhir dari Income Statement adalah Laba Bersih (Net Profit). Komponen ini diperoleh dengan mengurangi Laba Operasional dengan Biaya Lain-lain (dalam situasi  Pendapatan Lain-lain lebih kecil daripada Biaya Lain-lain) atau dengan menambah Laba Operasional dengan Pendapatan Lain-lain (dalam situasi Biaya Lain-lain lebih kecil daripada Pendapatan Lain-lain). Dalam kondisi dimana tidak terdapat Pendapatan/Biaya Lain-lain, Laba Bersih akan sama dengan Laba Operasional.

Demikianlah postingan mengenai Konsep Laporan Laba/Rugi, Semoa postingan ini memberikan manfaat bagi yang ingin mempelajarinya. Selain itu konsep ini masih memerlukan referensi lain agar pembahasan mengenai Konsep Laporan Laba/Rugi ini semakin akurat dan berwawasan lebih dalam. Salam sukses.